Langsung ke konten utama

REVIEW FILM: Kuldesak, Mencari Pelarian Namun Justru Tersesat

Jika menonton film ini untuk pertama kalinya dapat dipastikan penonton akan kesulitan untuk menebak atau sekedar memiliki gambaran tentang film ini dari judul yang diberikan. Cul de sac, adalah kata-kata yang mengilhami judul dari film ini, berasal dari Bahasa Perancis yang memiliki arti jalan buntu. Bercerita tentang kaum muda Jakarta tahun 1990an yang pop, berani, punya mimpi dan penyuka tantangan. Di awal cerita penonton dimudahkan untuk menilai nuansa cerita melalui lagu-lagu pop legendaris yang dijadikan soundtrack. Di scene-scene selanjutnya juga terselip lagu-lagu pop lain yang membuat nuansa film menjadi nuansa anak muda, seperti dari Pure Saturday, Ahmad Dhani dan Slank. Namun sebaliknya, kesulitan dan tantangan untuk memahami alur cerita harus dialami oleh penonton karena alur yang disajikan tidak sama seperti film-film Indonesia pada umumnya di masa itu. Pikiran penonton dipaksa untuk dibolak-balik mengingat dan memahami 4 jenis cerita yang tidak ada tautannya sama sekali. Penonton yang sejak awal menunggu untuk mengetahui hubungan antar tokoh dari scene yang berbeda harus ikhlas untuk menerima bahwa film-film itu memang sengaja tidak berhubungan. Empat cerita dalam Kuldesak dipatah-patah, kemudian dirangkai secara acak. Tipe film semacam ini disebut film omnibus atau antologi. Film terpisah menjadi film-film pendek dan bisa berasal dari sutradara yang berbeda. Kuldesak kemudian menjadi pelopor lahirnya film omnibus di Indonesia.
                Kuldesak dinilai mampu menjadi tonggak sinema di Indonesia generasi tahun 2000. Rilis pada tahun (1999) yang merupakan tahun transformasi dari orde baru ke reformasi. Masa itu juga merupakan masa stagnansi produksi film-film di Indonesia, hal ini disebabkan situasi krisis moneter yang melanda Indonesia dan sulitnya birokrasi perizinan pembuatan film. SIneas ternama Indonesia seperti Riri Riza, Rizal Mantovani, T. Achnas dan Mira Lesmana adalah tangan-tangan penentu pembuatan film yang memakan waktu 2,5 tahun ini. Berawal dari gagasan yang mungkin remeh, dan kesadaran para sineas terhadap situasi lingkungan sekitar saat itu, memancing mereka untuk berani membuat karya meski tanpa modal materi, hanya bermodalkan nekat. Para sineas ini sekedar ingin menikmati membuat film dengan perasaan tanpa beban, tak menghiraukan batasan-batasan. Hingga pada akhirnya dengan modal sendiri dan bantuan beberapa pihak film ini digarap, bersama artis-artis yang dibayar cuma-cuma. Setelah muncul Kuldesak sebagai film omnibus pertama, selanjutnya industri film di Indonesia tertarik untuk membuat omnibus-omnibus lain, seperti Histeria, Isyarat, Perempuan Punya Cerita dan Rectoverso. Kuldesak juga dinominasikan sebagai Best Asian Feature Film dari Singapore International Film Festival tahun 1999.
                Empat cerita yang diacak ini ditata sesuai dengan alur masing-masing cerita. Meskipun tercampur, semuanya tetap mendapat porsi alur perkenalan-konflik-penurunan konflik dengan baik. Film diawali dengan adegan seorang wanita yang dikejar oleh sekumpulan penjahat di malam hari, scene ini sekaligus menjadi credit film, memperlihatkan bahwa film ini bukan film picisan. Selanjutnya adalah perkenalan dari kisah Dina (Oppie Andaresta), seorang pegawai penjual tiket bioskop. Di kamar kosnya diperlihatkan Dina sedang menonton televisi dan tergila-gila dengan tokoh Max Mollo (Dik Doank), ia menonton televisi hingga jarak yang sangat dekat, melihat tingkah Max Mollo di layar kaca membuatnya ingin bertemu dan dekat dengan sosok Max Mollo. Cerita selanjutnya dibawa ke setting sebuah kamar yang penuh dengan poster-poster musik metal, gitar dan seorang pria gondrong bernama Andre (alm. Ryan Hidayat). Andre hidup dalam kesendirian dan kesepian, meskipun orang tuanya adalah orang kaya ia enggan untuk tinggal bersama orang tuanya. Andre hidup dalam kebebasannya sendiri sambil menikmati hidupnya yang teridentifikasi dengan sosok Kurt Cobain, vokalis band metal grunge Nirvana yang saat itu sedang di puncak popularitas di seluruh dunia. Masih dalam tahap pengenalan tokoh, cerita berlanjut ke Akhsan (Wong Akhsan) dan temannya yang bekerja di Lasermania, tempat menonton dan penyewaan laserdisc. Akhsan memiliki impian menjadi pembuat film, namun orangtuanya tidak merestui karena menganggap pekerjaan itu tidak menghasilkan uang. Namun teman Akhsan terus-terusan membujuknya, memberi dorongan bahwa Akhsan mampu untuk membuat film hingga membuat Akhsan untuk benar-benar nekat membuat film dan mencari modal dengan cara yang tidak halal. Perkenalan terakhir adalah perkenalan Lina (Bianca Adinegoro), seorang karyawati cantik di perusahaan iklan yang giat bekerja hingga mengambil waktu lembur.
                Masing-masing cerita digulirkan secara urut, sesuai alur normal dalam bercerita. Dari sisi cerita Dina, ia memiliki konflik mengejar idolanya dan hidup bersama teman kos yang awalnya homoseksual. Sedangkan dari cerita Andre, konflik dominan yang terlihat jelas adalah kesepian terus menyelimuti hidupnya, ia hanya punya teman seorang dukun jalanan, dan seluruh hidupnya hanya dihabiskan untuk mengidentifikasi tokoh idolanya, Kurt Cobain. Cerita tentang Lina mulai muncul konflik ketika Lina sedang lembur di kantor yang sangat sepi, secara tiba-tiba ia dikeroyok oleh penjahat yang akhirnya memperkosa dirinya. Cerita tentang Lina kemudian difokuskan tentang usaha Lina mencari pelaku yang memerkosanya dan misi balas dendam. Sedangkan cerita dari tokoh Akhsan, konflik yang harus dialami tokoh adalah keinginan membuat film yang semakin menggebu-gebu. Hal ini memancing Akhsan untuk berbuat nekat, berniat untuk merampok uang ayahnya. Namun Akhsan dan temannya malah didatangi oleh tiga orang iseng yang menghancurkan suasana di Lasermania, tempat dia akan merampok. Dari empat konflik yang ditampilkan tersebut, ada kesamaan yang secara tersirat terselip di dalam setiap cerita, yaitu situasi kesepian dan kerisauan yang dialami oleh setiap tokoh utama di tiap film. Setiap tokoh utama memiliki konflik dengan batinnya, yang pada akhirnya membawa setiap tokoh pada situasi yang paling buruk di akhir cerita.


Penularan Budaya Populer dan Muatannya dalam Film Kudesak
                Tahun 1990an merupakan tahun kebangkitan dan tahun yang bersejarah bagi industri media televisi di Indonesia. Pada tahun-tahun tersebut terjadi perubahan struktur pasar dari monopoli ke oligopoly. Monopolisasi televisi oleh TVRI sudah digantikan oleh lima stasiun TV swasta yang langsung diterima masyarakat antara lain RCTI, SCTV, TPI, ANteve dan Indosiar. Konten yang disajikan oleh stasiun televisi swasta pun lebih beragam, dan seiring dengan globalisasi, program yang ditampilkan juga membawa budaya dari luar. Hal ini menyebabkan fenomena westernisasi, yaitu terafiliasinya budaya luar merasuki budaya dalam negeri. Budaya populer ikut serta ditularkan bersamaan dengan arus westernisasi. Budaya populer sendiri merupakan budaya yang konon lebih atraktif, fleksibel dan mudah diterima, budaya ini teraktualisasi lewat berbagai pengembangan teknologi sehingga penyebarannya begitu cepat. Menurut O’Brien dan Szeman dalam (Danesi, 2012:6) budaya populer disukai karena mengandung apa yang dibuat dan dikerjakan oleh seseorang untuk mereka sendiri contohnya majalah, video, film, musik dan program televisi. Situasi ini turut menjadi latar belakang dalam situasi kehidupan pada film Kuldesak.
                Timbulnya pengaruh budaya populer kuat diperlihatkan dalam kisah Akhsan, Andre dan Dina. Dalam kisah Akhsan, beberapa kali disebutkan film-film Hollywood yang sedang populer saat itu, yaitu Reality Bites dan Pulp Fiction. Penyebutan film luar negeri ini sebagai bukti bahwa konten dari luar negeri sudah dengan mudah masuk ke dalam negeri dan merasuki kehidupan kaum muda. Selain itu, kegemaran Andre kepada band Nirvana juga salah satu hasil dari impor kebudayaan dari luar negeri. Obsesi tokoh Dina pada tokoh Max Mollo juga memperlihatkan ketangguhan televisi sebagai media penyebar budaya populer.  Kaum muda adalah sasaran utama dan konsumen utama budaya populer.
                Situasi kesepian dan konflik batin yang dialami tokoh membawa kemelut pada kehidupan setiap tokoh utama Kuldesak. Situasi ini memaksa mereka untuk mecari pelarian demi melepaskan permasalahan mereka. Melalui budaya populer inilah, para tokoh berusaha untuk mencari jawaban atas kerisauan hidupnya. Budaya populer menjadi alternatif ideologi, ketika hidup normal tidak lagi menjanjikan ketentraman bagi hidup mereka saat itu. Budaya populer juga akan dipilih apabila arusnya lebih kuat daripada budaya asal.
                Budaya populer yang merasuk di dalam jiwa kaum muda ini ternyata mampu mengubah gaya hidup seseorang. Westernisasi cenderung mengarahkan masyarakat ke tahap identifikasi terhadap budaya yang merasukinya. Kehidupan Andre yang bebas, kejiwaan yang meredup dan keinginan untuk bangkit dari keterpurukan adalah gambaran persis kehidupan grunge. Kehidupan grunge didapatkan Andre dari genre musik Nirvana. Grunge bukan sekedar aliran musik, para penggemar berat grunge juga memiliki kiblat sendiri dalam bergaya hidup dan beridiologi. Sosok Kurt Cobain sebagai pentolan grup Nirvana, yang menjadi idola Andre adalah tokoh penentu kiprah grunge di dunia. Salah satu album dari Nirvana yang menjadi legenda adalah Nevermind yang rilis tahun 1991. Lagu-lagu musik grunge identic dengan konflik-konflik sosial seperti bunuh diri di usia muda, ketergantungan pada narkoba, pemerkosaan, hidup dalam kesendirian, alienasi dan depresi. Segala hal yang berbau grunge ini sangat sesuai dengan kepribadian Andre di dalam film. Andre menjalani hidup yang anti- mainstream. Kekayaan bukanlah hal yang membuatnya bahagia, namun hidup bebas sambil mengidentifikasikan diri dengan tokoh idolanya mampu membuatnya tentram.
                Budaya populer yang merasuki kehidupan Akhsan adalah seputar film. Kehidupan Akhsan yang tidak ingin terlalu diatur dan kebiasaannya menonton film membuatnya harus drop out dari bangku perkuliahan. Kehidupan Akhsan sedikit banyak terpengaruh pula oleh film-film psikologis yang juga disebutkan di dalam cerita seperti Reality Bites dan Pulp Fiction. Kebiasaan menonton film ini mengilhami Akhsan untuk membentuk ide dan turut merealisasikannya ke dalam film. Kehidupan Akhsan menjadi disetting bahwa hidupnya di dunia ini harus menjadi pembuat film, bagaimanapun caranya. Pikiran Akhsan terdistraksi oleh hal-hal yang sehari-hari ia konsumsi, yaitu film.
                Dari kisah Dina, rasa sepi dan kesendirian yang dialami Dina ditanggulangi dengan menonton acara televisi favorit Dina yaitu Max Mollo show. Dina menjadi pengagum berat Max Mollo. Rasa senang terhadap tayangan ini juga membawa Dina untuk akrab dengan tetangga kosnya yang juga memiliki hobi menonton Max Mollo show. Namun lama kelamaan Dina menjadi terobsesi dengan sosok Max Mollo.
Temukan diri di dalam dunia tak terkira
Tak berarti tak akan pasti
Terlalu gelap...
Pergilah pulang

                Cuplikan lagu Pure Saturday berjudul Kosong, terselip di salah satu scene Kuldesak. Lagu ini dipilih sebagai soundtrack karena situasinya yang pas menggambarkan keadaan para tokoh yang berjuang dalam dunianya, mencari pelarian, namun justru menemui jalan yang gelap, dan harus pulang, harus kembali.
                Budaya populer menjadi pelarian, di tengah-tengah konflik kehidupan yang dialami para tokoh, di tengah lelahnya para tokoh dengan budaya asal yang tidak menentramkan kehidupan mereka. Harapannya setelah mencari pelarian adalah mendapatkan pencerahan atau ketentraman dalam hidupnya. Namun kenyataannya, masing-masing tokoh dalam cerita ini harus mengalami kesesatan, ujung yang gelap, jalan yang buntu ketika menjadikan budaya-budaya populer sebagai pelarian. Hal-hal irrasional juga harus dialami tokoh akibat budaya populer yang mereka anut. Tokoh Akhsan yang bersikeras untuk membuat film dan berniat untuk merampok uang ayahnya justru mendapat masalah baru, dan membuatnya berada dalam kondisi sangat bahaya hingga nyawanya menjadi korban. Andre yang terlalu mengidentifikasi dirinya dengan Kurt Cobain setelah mendengar berita kematian idolanya langsung ingin ikut bunuh diri karena merasa sosok panutannya sudah meninggalkannya. Dina yang tidak bisa mendekati Max Mollo sang idola, merasa hidupnya menjadi lebih terpuruk.
                Unsur-unsur fanatisme dan obsesi yang berlebihan turut menyelimuti para tokoh dalam mengikuti budaya populer. Kuldesak memperlihatkan kaum muda yang diterpa oleh media menjadi tergila-gila terhadap produk media itu. Perkembangan pesat media massa dan kebebasan penyajian konten di media massa pasca orde baru, menjadikan kegemaran terhadap budaya populer sebagai fenomena kontemporer di masa itu. Mereka menjadi tak berdaya dan diselimuti impian-impian identifikasi, imitasi, simpati hingga rasa afeksi berlebih. Tokoh dalam film juga tidak memiliki kontrol diri dan cenderung gegabah. Sifat-sifat ini masih sering kita temui di kalangan kaum muda yang sedang berusaha menemukan jati dirinya. Lewat media massa mereka menemukan “pelarian” dan menjadikannya hal yang istimewa dalam kehidupan mereka. Para tokoh seakan-akan menjadi budak dari budaya populer, loyalitasnya diuji.
                Konflik dengan budaya populer yang ditampilkan di dalam Kuldesak juga dialami oleh kaum muda masa kini. Budaya populer dijadikan “pelarian” ketika merasa jenuh dengan budaya asal. Namun bentuk budaya populer saat ini lebih bervariasi, karena media dan teknologi penular budaya populer ini semakin canggih. Digitalisasi dan konvergensi media mampu membuat budaya populer menjadi mudah diakses di berbagai tempat dan berbagai kesempatan. Film Kuldesak ini memperlihatkan bahwa fanatisme yang berlebihan akan suatu budaya populer justru membawa kita pada kesesatan. Jangan sampai budaya populer menjajah waktu, tenaga dan memaksa loyalitas kita. Jangan sampai kita menjadi budak dan sosok yang sangat penurut dengan budaya populer. Sebagian budaya populer ditularkan dari negara-negara barat yang gaya hidupnya belum tentu sesuai dengan kondisi masyarakat kita. Budaya populer cenderung bertahan dalam tren waktu yang tidak lama dan bersifat dinamis. Apabila kita terus-terusan bersikeras untuk loyal terhadap budaya populer maka timbulah budaya konsumerisme dan hedonisme yang tentu saja merugikan kita sendiri. Selanjutnya, media sebagai penyedia agenda publik yang akan menjadi pengendali keluar masuknya budaya populer.
                Film dengan tema anti-mainstream ini dapat dijadikan sebagai pendobrak bagi penonton yang khususnya kaum muda untuk tidak hanyut dalam arus budaya populer yang terus menggerus budaya lokal. Hiruk pikuk ideologi dan kebudayaan akan terus-terusan mengantri untuk keluar dan masuk, sehingga sebagai penerima kita harus siap dan mampu menyeleksi. Namun terlepas dari pembahasan tentang media populer, sebenarnya film ini sangat terbuka bagi penonton untuk menilai dan merumuskan berbagai pesan moral yang didapat setelah menonton film ini. Banyak aspek lain yang bisa dikaji dan disoroti. Semoga selanjutnya film-film pendobrak seperti Kuldesak akan mewarnai industri perfilman di Indonesia.


Daftar Pustaka
Danesi, Marcel. 2012. Popular Culture: Intoductory Perspective. Plymouth: Rowman and Littlefield Publishers, Inc.
Gray, Jonathan.2007. Fandom:Identities and Communities in a Mediated World. New York:NYU Press.
Lang, Peter. 2010. Digital Fandom: New Media Studies. New York: Peter Lang Publishing, Inc.
Prato, Greg. 2009. Grunge is Dead: The Oral History of Seattle Rock Musik. 2009: ECW Press.
Strong, Catherine. 2013. Grunge: Musik and Memory. 2014 :Ashgate Publishing.




                

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengapa Banyak Pedofilia?

Beberapa minggu terakhir pemberitaan di TV dipenuhi kasus kekerasan seksual yang menimpa anak-anak, mulai kasus yang bawa-bawa nama sekolah internasional sampai kasus orang dewasa stress terus nyiksa fantasinya anak kecil. Objek utama yang dibawa-bawa adalah anak kecil, nah objeknya udah beda orientasi nggak kayak kasus yang dulu-dulu yang korbannya wanita tak bersalah. Mengapa demikian? Pedofilia, kata keren buat menyebut sindrom pelaku kasus ini. Artinya bisa dicari sendiri ya, tapi pasti kalian tahu deh artinya, sekarang suka ngrecokin temen pakai sebutan itu kan yaa. Kok bisa sih sekarang banyak orang yang jadi pedo gitu? Faktor apa yang memengaruhi membludaknya pedo? Selanjutnya akan dibahas pada artikel ini *berasa makalah*. Semakin banyaknya jomblo (terutama laki-laki) semakin menambah jumlah manusia pedo. Lho kok bisa? Iya bisa banget. Sosok wanita yang seharusnya menjadi objek fantasi kaum pedo tidak mampu hadir di hadapan para pedo. Wanita-wanita zaman sekarang t...

AndroGraphy

Sebelum saya punya android,saya suka banget liat2 foto lomo efek hasil editan dari instagramnya iphone, dengan efek yang keren terus buka2 galery photobucket dengan efek lomo yang asik makin pengen. Setelah punya android dan aktif melototin timeline di twitter, saya menemukan sebuah hashtag yang sangat menarik buat dicoba. #ANDROGRAPHY. 11 huruf yang sangat unik untuk dibaca, masuk ke hashtagnya, isinya share foto2 dari picplz. Foto2nya keren2,meski foto simpel tapi efeknya interesting banget. Akhirnya ngecek ke mbah gugel apasih andrography itu, dan hasilnya andrography adalah seni memotret foto,mengedit dan mengolahnya dalam device android. Langsung tertarik dan saya cari info lebih lanjut, akhirnya saya download berbagai app photograph dari market,like these:   1. Camera 360     aplikasi ini mudah banget dipake dan bisa didownload gratis via android market. Pilih efek yang sekiranya mau dipakek,cepret foto dan langsung jadi editannya, atau juga bisa pake efek ran...