Langsung ke konten utama

Naluri Ke-cek in-nan

Judul di atas mungkin sangat ga sesuai kaidah EYD atau KBBI ya, meskipun begitu kata cek in atau check in sudah tidak asing lagi bagi kita anak-anak new media. Cek in bukan lagi istilah kalo kita daftar hotel atau daftar ketika mau naik pesawat. Cek in menjadi aktivitas baru dan kata kerja baru yang nyaingi gugling dan tweeting di era digital ini.





Jadi, mari kita definisikan dulu arti cek in yang sekarang lagi ngetren. Cek in adalah aktivitas menunjukkan keberadaan kita kepada orang lain melalui media sosial sehingga orang-orang mengetahui kita itu lagi dimana. Tujuan utama cek in pastilah buat pamer, kita pengen menunjukkan eksistensi kita kalo kita lagi di suatu tempat yang oke, dan pengen orang lain tau.
Aku sendiri tau tentang dunia per cek in an semenjak ada foursquare. Namun, cek in zaman dulu belum se membahana sekarang. Dengan handphone yang masih berbasis Java, ketika cek in kita hanya sekedar menunjukkan nama tempat, ga seperti sekarang yang dilengkapi pula dengan peta venue (meskipun terkadang menyesatkan juga). Foursquare yang sempat populer di era nya pun sekarang harus mengalah dengan aplikasi sosial media yang lebih kece dan asik buat di scroll-scroll, yaitu path.
Cek in masa kini udah lengkap sekali buat melengkapi keeksisan kita. Dilengkapi dengan peta venue, sehingga kalau ada temen yang mau nyusul tinggal lihat petanya. Dilengkapi pula dengan bukti foto tempat kita cek in, dan nama teman-teman yang lagi bareng sama kita. Ajang pengeksisan semakin tersalurkan, namun yang menjadi sorotan di tulisan ini adalah pertanyaan "apa kalian ga takut?"
Dengan ber cek in, artinya kita menunjukkan posisi kita. Masyarakat dunia maya jadi pada tahu Nita lagi dimana, sama siapa, lagi ngapain. Gampang banget buat nyariin posisi kita apabila kita melakukan cek in, dan ini nih yang menjadi masalah, kita bisa jadi korban PENCULIKAN. wow..
Para psikopat yang haus pengalaman ga perlu susah-susah buat nyewa FBI buat ngelacak kita, cukup follow akun twitter atau path kita. Emang sih kasus ini penculikan gegara cek in belum ada, tapi sekarang lagi ngetrend loh penculikan, bahkan yang dilanjutkan jadi episode pembunuhan sadis. Chat di fb aja bisa diculik, apalagi cek in dan kasih tau ke orang-orang kita lagi dimana. Cerita dalam sinetron tentang penculikan terus minta uang tebusan bisa banget terjadi, dunia kita emang dunia sinetron. Psikopat dan penculik era ini juga pinter-pinter, lulusan S1, punya gadget bagus-bagus. Fiuh.
Lebih parah lagi kalau kita cek in menyertakan nama temen kita, sama aja barengan masuk ke lubang singa tuh, meski kalian bareng-bareng ga menutup kemungkinan juga kalian diculik sama klub psikopat, komunitas penculik ulung atau kesebelasan penjahat. Terus juga kita majang foto legitz kita waktu cek in, semakin melaparkan mata kaum psikopat tuh.
Sebenernya dunia per cek in nan bisa dipandang dari berbagai sudut pemikiran, namun kebetulan aja hari ini aku lagi berpikir futuristik, ketika kekinian udah banyak yang bahas. Udah banyak yang bahas kalau cek in bisa sebagai media promosi, petunjuk jalan. Yang bahas sebagai media penculikan masih jarang kan? Nah!
Kalo aku pribadi sih sekarang agak males kalo mau cek in, alasan utama sih karena sinyal internet providerku emang ga tokcer. Aku lebih memilih buat 'pamer' melalui foto dan biasanya uploadnya emang latepost. Males banget ga sih kalo kita ngemal atau ngafe bareng temen-temen, terus cek in, terus foto-foto, terus pada anteng sendiri-sendiri upload foto gitu. Mendingan foto-foto terus uploadnya nanti waktu udah pulang, gunakan waktu berharga bareng orang-orang yang kita kasihi dengan bijaksana gitu. Sedih banget kan kalo kita main, cek in, foto, upload, terus pulangnya diculik, disekap, diborgol, dikasih makan nasi basi -___-
Sebagai insan generasi media baru utamakan selamat yaa :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

REVIEW FILM: Kuldesak, Mencari Pelarian Namun Justru Tersesat

Jika menonton film ini untuk pertama kalinya dapat dipastikan penonton akan kesulitan untuk menebak atau sekedar memiliki gambaran tentang film ini dari judul yang diberikan. Cul de sac, adalah kata-kata yang mengilhami judul dari film ini, berasal dari Bahasa Perancis yang memiliki arti jalan buntu. Bercerita tentang kaum muda Jakarta tahun 1990an yang pop, berani, punya mimpi dan penyuka tantangan. Di awal cerita penonton dimudahkan untuk menilai nuansa cerita melalui lagu-lagu pop legendaris yang dijadikan soundtrack. Di scene-scene selanjutnya juga terselip lagu-lagu pop lain yang membuat nuansa film menjadi nuansa anak muda, seperti dari Pure Saturday, Ahmad Dhani dan Slank. Namun sebaliknya, kesulitan dan tantangan untuk memahami alur cerita harus dialami oleh penonton karena alur yang disajikan tidak sama seperti film-film Indonesia pada umumnya di masa itu. Pikiran penonton dipaksa untuk dibolak-balik mengingat dan memahami 4 jenis cerita yang tidak ada tautannya sama sekal...

AndroGraphy

Sebelum saya punya android,saya suka banget liat2 foto lomo efek hasil editan dari instagramnya iphone, dengan efek yang keren terus buka2 galery photobucket dengan efek lomo yang asik makin pengen. Setelah punya android dan aktif melototin timeline di twitter, saya menemukan sebuah hashtag yang sangat menarik buat dicoba. #ANDROGRAPHY. 11 huruf yang sangat unik untuk dibaca, masuk ke hashtagnya, isinya share foto2 dari picplz. Foto2nya keren2,meski foto simpel tapi efeknya interesting banget. Akhirnya ngecek ke mbah gugel apasih andrography itu, dan hasilnya andrography adalah seni memotret foto,mengedit dan mengolahnya dalam device android. Langsung tertarik dan saya cari info lebih lanjut, akhirnya saya download berbagai app photograph dari market,like these:   1. Camera 360     aplikasi ini mudah banget dipake dan bisa didownload gratis via android market. Pilih efek yang sekiranya mau dipakek,cepret foto dan langsung jadi editannya, atau juga bisa pake efek ran...

Long time no see!

Yap sudah bertahun tahun tidak mengisi kembali blog ini karena segala rutinitas dan yang paling utama gara2 ga jadi penilaian blog. Entah kenapa malem ini mulai males main twitter, karena sebagian isinya hanya iseng2an belaka,tapi aku tetep aja buka terus. Setiap kali mau ngetwit nomention selalu mikir dulu,tepat ga sih,garing ga sih. Alhasil ga jadi ngepost dan cuma liat2 TL aja. Wasting time banget dan aku terus saja melakukannya! Well,kepikir buat nulis di blog aja,ga ada yang baca gpp, tapi paling engga si blog ini ga bikin galau karena ga ada stalking dan stalkernya :)