Field Trip Komunikasi UGM 2013
Sebagai mahasiswa yang berasal
dari Klaten dan telah puluhan kali berkunjung ke Solo, saya merasa gagal belum
pernah mengunjungi dua lokasi yang ternyata sangat luar biasa dan menarik
sekali untuk dikunjungi. Lokasi ini bahkan lebih menarik dari Beteng Trade
Center atau Solo Grand Mall. Dua lokasi ini menyimpan kekayaan negeri kita yang
dulunya berpengaruh dan menjadi saksi perjalanan bangsa ini. Agar kita lebih
peka dengan sejarah dan menjaga kekayaan negeri kita, mata kuliah Sejarah Ilmu
Komunikasi dan Media mengadakan field trip ke dua tempat tersebut pada tanggal
12 Mei 2014. Tempat tersebut juga sesuai dengan disiplin ilmu para pembelajar
komunikasi karena kekayaan yang disimpan adalah objek yang kami kaji.
1. Lokananta
Tulisan Lokananta di Gedung Utama
Masih
ingat dengan kasus klaim Malaysia terhadap lagu Rasa Sayange? Nah tempat inilah
yang menyelamatkan lagu Rasa Sayange tetap menjadi lagu asli dari Indonesia.
Lokananta adalah sebuah studio rekaman yang sudah ada sejak dahulu. Studio ini
menjadi saksi perjalanan musik Indonesia sekaligus menyimpan file-file musik, pidato presiden dan
lagu-lagu perjuangan dalam bentuk piringan hitam. Karena jasa-jasanya, tempat
ini bisa kita sebut sebagai sarana menyatukan budaya bangsa.
Sekilas
dari luar, gedung Lokananta yang terletak di jalan Ahmad Yani 387, Solo
ini nampak tua dan tidak terurus. Awalnya aku sempat meragukan kalau ini adalah
studio rekaman. Namun setelah memasuki aula besar tempat rekaman, terlihat
kekokohan bangunan ini. Interior yang unik di dalam aula ternyata merupakan
penataan untuk membuat ruangan menjadi kedap suara. Studio rekaman pun rapi dan
bersih, alat-alatnya terawat dan terlihat modern. Ruang penyimpanan piringan hitamnya
juga rapi dan bersih meski menggunakan bangunan lama. Kesan dari ruang-ruang di
Lokananta menjadi vintage, menarik
untuk foto-foto.
Dalam
perjalanan kami mengenal Lokananta, kami dipandu oleh empat orang staff dari Lokananta. Mereka bercerita
tentang sejarah dan kiprah Lokananta. Beberapa poin yang menjadi hal penting
antara lain didirikannya Lokananta pada 29 Oktober 1956. Awalnya, tujuan dari
Lokananta adalah sebagai pabrik piringan hitam yang menyimpan transkrip berita
masing-masing RRI di Indonesia. Kemudian di bawah departemen penerangan mulai
tahun 1960, Lokananta diberi hak untuk komersialisasi hasil produksi dan
dijadikan perusahaan negara seiring dengan kegiatan usaha yang semakin pesat
dan maju. Musisi yang melakukan rekaman di Lokananta antara lain Gesang,
Waldjinah, Titiek Puspa, Ismail Marzuki dan masih banyak lagi. Sampai pada
akhirnya tahun 1972 piringan hitam sudah tidak lagi diproduksi namun diganti
oleh kaset dan bahkan CD. Tahun 1998, departemen penerangan dibubarkan dan
menyebabkan Lokananta ikut “bubar” namun tidak tutup.
Era
reformasi, Lokananta seakan di anak tirikan, tidak mendapat modal yang memadai
menyebabkan pemutusan hubungan kerja pada karyawan. Demi menghidupi para
pegawai yang masih tersisa dan mempertahankan Lokananta, di tempat ini didirikan
lapangan futsal dan beberapa tempat disewakan untuk lahan bisnis. Sedikit miris
memang, namun semangat dan kepedulian pegawai Lokananta ini harus kita hargai
dan kita teladani.
Selain
geliat dan semangat dari para pegawainya, para musisi modern ikut serta membuat
gerakan #saveLokananta. Gerakan ini dalam rangka kepedulian para musisi
terhadap warisan budaya yang dimiliki Lokananta. Tidak tanggung-tanggung,
nama-nama seperti Glenn Fredly, White Shoes and The Couples Company, Efek Rumah
Kaca, dan Shaggy Dog adalah musisi modern yang memberi andil besar dalam
gerakan #saveLokananta dan menggunakan Studio Lokananta untuk produksi
albumnya.
Berkat
kepedulian dari berbagai kalangan, Lokananta kembali bangkit dan berinovasi.
Alat-alat recording dan mixer music yang dimiliki Lokananta pun
termasuk barang langka yang kualitasnya tidak diragukan lagi. Lokananta juga
melakukan proses digitalisasi terhadap karya-karya lama agar bisa dirawat lebih
mudah. Layanan yang diberikan oleh Lokananta pun lengkap, sangat
direkomendasikan untuk teman-teman yang tertarik dengan musik dan ingin membuat
album sendiri.
Kunjungan
ke Lokananta kali ini memberi motivasi untuk semakin menghargai warisan musik
Indonesia. Sedangkan sebagai pembelajar Komunikasi adalah memberi informasi
bahwa tempat inilah yang menjadi cikal bakal dan tulang punggung dunia broadcasting radio pada zaman dahulu.
2. Monumen Pers Nasional
2. Monumen Pers Nasional
Kumpulan surat kabar lawas yang akan digitalisasi
Gedung
megah berbentuk layaknya candi ini menjadi tujuan kedua dari field trip kami. Gedung
tersebut adalah Monumen Pers Nasional. Awalnya, gedung tersebut merupakan
Markas Besar Palang Merah Indonesia namun beberapa tokoh seperti B.M. Diah,
S.Tahsin, Rosihan Anwar, dan lain-lain mencetuskan gagasan tentang pembangunan
Yayasan Museum Pers Indonesia. Modal utamanya hanyalah berupa koleksi buku dan
majalah milik Soedarjo Tjokrosisworo. Akhirnya pada tanggal 9 Februari 1978,
Presiden Soeharto meresmikan gedung societeit Sasana Soeka menjadi Monumen Pers
Nasional dengan penandatanganan prasasti.
Berdasarkan Peraturan Menteri Komunikasi dan
Informatika Nomor 06/PER/M.KOMINFO/03/2011 tanggal 16 Maret 2011 tentang
organisasi dan tata kerja, Monumen Pers Nasional memiliki tugas melaksanakan
pelestarian dan pelayanan kepada masyarakat mengenai Monumen Pers Nasional dan
produk produk Pers Nasional yang bernilai sejarah. Kemudian Monumen Pers
Nasional memiliki fungsi sebagai pelaksanaan pelestarian pemberian pelayanan
kepada masyarakat mengenai Monumen Pers Nasional dan produk pers nasional yang
bernilai sejarah, juga pelaksanaan administrasi Monumen Pers Nasional.
Ruangan
monumen pers nasional begitu megah dan bersih. Auditorium utama digunakan untuk
ruang pertemuan dan di sekitarnya tersekat ruang-ruang pameran dan ruang
internet. Koleksi yang dipamerkan pun dikategorikan dalam ruang-ruang yang
berbeda. Misalnya ada ruang khusus diorama, patung tokoh perintis pers,
barang-barang warisan wartawan dan cetakan berbagai surat kabar. Selain
ruang-ruang khusus warisan pers tersebut, Monumen Pers Nasional ini juga
memiliki perpustakaan, ruang internet dan perpustakaan surat kabar digital.
Yang
paling menarik perhatian adalah ruangan khusus benda-benda peninggalan pers
pada masa lalu. Misalnya ada pemancar radio “RRI KAMBING”, mesin ketik milik
Bakrie Soeraatmadja, pakaian Hendro Subroto, kamera milik wartawan Udin dan
lain sebagainya. Segala koleksi yang ada di Monumen Pers ini sebagai wujud
bukti untuk lebih menghargai perjuangan bangsa terutama dalam hal media dan
pers. Surat kabar dan majalah yang dirawat dan mulai didigitalisasi ini menjadi
saksi perkembangan negara kita sekaligus menjadi buku catatan cerita perkembangan
Indonesia dari dulu hingga sekarang. Berkunjung ke tempat ini mengajak kita
untuk mengingat kembali perjuangan para wartawan ketika harus meliput saat
peperangan, menelisik berita-berita dan kondisi Indonesia pada zaman dahulu.
Semua harta tersebut harus kita pelihara sebagai warisan berharga dalam
perjalanan bangsa kita.
"Solo
menyimpan saksi-saksi perkembangan bangsa kita, perjalanan ini selain menambah
pengetahuan kita sekaligus sebagai motivasi bahwa kita kaum-kaum penerus bangsa
harus ikut andil dalam melestarikan peninggalan berharga ini."
Senin
sore kami kembali ke Yogyakarta, meski sedikit lelah dan dituntut untuk
mengerjakan tugas lain untuk esok hari saya pribadi tidak menyesal dan ingin
mengulangi perjalanan ini lagi, mungkin bersama rekan lain agar peninggalan
berharga negara ini semakin dihargai.
Valentina Dwi Nita P. 13/345987/SP/25601
19 Mei 2014
Valentina Dwi Nita P. 13/345987/SP/25601
19 Mei 2014
Komentar
Posting Komentar