Modernisasi dan perkembangan
teknologi menjadikan masyarakat berubah menjadi bergaya hidup urban. Gaya hidup
urban kini tidak mengenal desa atau kota, karena penetrasi segala modernisasi
telah mengena ke berbagai lapisan masyarakat. Ciri utama masyarakat urban
adalah bergaya hidup praktis. Namun dalam prakteknya tidak semua generasi mampu
untuk mengikuti gaya hidup urban. Di era ini, pemeran utama gaya hidup urban
adalah para generasi Y. Bermodal usia yang masih muda, akses terhadap teknologi
dan berasal dari kelas menengah semakin menjadi faktor pendukung individu untuk
bergaya hidup urban.
Masyarakat urban menjadikan
informasi sebagai komoditas yang penting. Kehadiran teknologi menjadikan
informasi tersebar dengan cepat dan membuka kesempatan bagi masyarakat sebagai
penyumbang informasi itu. Berita tidak melulu ditulis oleh wartawan dan dimuat
di televisi atau surat kabar. Kini, masyarakat urban telah menggenggam
informasi di masing-masing tangannya. Berita bencana, kematian artis, atau
perseteruan gubernur dapat diakses dengan mudah dan cepat.
Pada mata kuliah Media,
Budaya dan Kaum Muda tanggal 19 Maret 2015, mahasiswa diperkenalkan tentang citizen journalism oleh Mbak Ika. Beliau
adalah alumni Ilmu Komunikasi UGM dan saat ini kini bekerja di surat kabar
Jakarta Post di desk feature. Pembahasan
tersebut menarik bagi saya, karena sebagai mahasiswa konsentrasi media dan
jurnalisme, isu tentang citizen
journalism sangat dekat dengan konsentrasi yang diambil. Selain itu konsep citizen journalism masih belum bisa saya
pahami, penggunaan internet sebagai wadah untuk melakukan citizen journalism menyebabkan batas-batas citizen journalism belum jelas.
Citizen journalism
atau jurnalisme warga, sering diartikan sebagai berita yang dikirim untuk media
oleh warga biasa tanpa lata belakang jurnalisme. Konsep ini berbeda dengan
jurnalisme publik atau civic journalism,
meskipun jurnalisme publik yang menjadi cikal bakal dari jurnalisme warga.
Jurnalisme publik pada dasarnya dikembangkan oleh wartawan profesional
menyikapi meningkatnya ketidakpercayaan publik terhadap media dan kesinisan
publik terhadap politik di Amerika Serikat sekitar tahun 1988. Jurnalisme
publik mencoba mendefinisi ulang nilai berita, mempertanyakan nilai
objektivitas dan imparsialitas, mendorong keterlibatan wartawan lebih besar
sebagai peserta aktif dalam masyarakat, dan menginginkan praktik jurnalisme
yang mencerminkan keragaman kultural di masyarakat Amerika. Namun jurnalisme
publik tidak mampu bertahan lama karena hanya mengejar keuntungan semata.
Civic journalism
ini membuka pintu bagi tumbuhnya jurnalisme warga dimana warga yang mempunyai
berita, dan foto dapat menyampaikannya langsung melalui blog atau ke beberapa
media konvensional yang sudah mengakomodasi misalnya situs BBC (www.bbc.co.uk),
CNN (www.cnn.com), situs koran The Jakarta Post, Kompasiana, acara Wide Shot
MetroTV dan lain sebagainya.
Selama ini jurnalisme warga
ini lebih dikenal dan populer melalui medium internet. Outing (2005) membuat
kategori jurnalisme warga yang ada di situs internet sebagai berikut:
1.
Situs
internet mengundang komentar dari masyarakat. Pembaca diperbolehkan untuk
bereaksi, mengkritik, memuji atau memberi tambahan ke berita yang ditulis oleh
wartawan professional. Berita tambahan dan foto dari pembaca yang disandingkan
dengan berita utama dari wartawan professional juga bisa dipakai.
2.
Liputan
dengan sumber terbuka dimana reporter profesional bekerja sama dengan pembaca
yang tahu tentang suatu masalah. Berita tetap ditulis oleh reporter profesional.
3.
Rumah
blog. Situs internet yang mengundang pembaca untuk menampilkan blognya.
4.
Situs
internet publik teredit dan tidak teredit dengan berita dari publik.
5.
Situs
“reporter pro+warga” berita dari reporter profesional diperlakukan sama dengan
berita dari publik.
6.
Wiki-jurnalisme
yang menempatkan pembaca sebagai editor.
Di Indonesia, yang menjadi pelopor dari jurnalisme
warga adalah Radio Elshinta. Sejak tahun 2000 radio ini telah mengadakan
program berbagi berita dengan reporter warga. Program ini mendapat respon yang
baik ketika bencana Tsunami Aceh dan jatuhnya pesawat di Surakarta, banyak
saksi-saksi kunci justru ditemukan melalui jurnalisme warga. Untuk menghindari
berita palsu, identitas reporter warga Elshinta haruslah jelas. Berita juga
harus bersifat kejadian dan bukan investigasi. Berita dari reporter warga yang
baru pertama kali melaporkan juga tidak akan disiarkan secara langsung dan
harus dicek ulang keakuratannya oleh wartawan profesional Elshinta. Standar ini
sejauh ini membantu Elshinta dan reporter warganya untuk terhindar dari
tuntutan hukum.
Kehadiran jurnalisme warga
ini masih mengundang pro dan kontra. Di satu sisi, setiap individu menjadi
memiliki kemampuan dan kesempatan yang sama untuk berbagi dan menyajikan
informasi. Adanya jurnalisme warga juga memacu masyarakat menjadi peka dan
kritis terhadap lingkungan sekitar. Partisipasi aktif audiens dalam jurnalistik
adalah hal lebih penting ketimbang konsumen berita yang pasif. Audiens akan
merasa lebih tergerak untuk melakukan perubahan. Ini adalah syarat demokrasi
sebagaimana yang disebutkan oleh Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam buku The Elements
of Journalism. Berkat teknologi dan jurnalisme warga bisa terjadi revolusi
politik, pemerintahan menjadi terbuka dan warga negara dapat mengetahui dan
menilai situasi politik di negaranya. Jurnalisme warga juga mendorong adanya
demokratisasi informasi. Namun di sisi lain, kehadiran jurnalisme warga juga
masih menuai kontra. Kecepatan, yang menjadi kekuatan utama dari sebuah
jurnalisme warga menyebabkan berita yang ditampilkan terkesan “publish first and ask later”. Akurasi
dan kredibilitas dari jurnalisme warga masih perlu dikulik kembali. Warga tidak
dibekali kemampuan jurnalistik dan pengetahuan mengenai kode etik jurnalistik,
sehingga berita mungkin tidak berimbang, tidak memenuhi 5W dan 1H dan kurang
obyektif. Selain itu warga juga masih belum terlalu bisa memetakkan mana
informasi yang memang menjadi konsumsi pribadi, atau yang berguna bagi
kepentingan publik atau mengolah informasi yang sifatnya privat menjadi penting
bagi publik. Maka dari itu, tetap diperlukan para pekerja media konvensional
atau wartawan untuk mengklarifikasi informasi dari jurnalisme warga.
Sejauh ini aktivitas
jurnalisme warga berkembang pesat di Indonesia. Hal ini tentunya dipengaruhi
pula oleh budaya asli Indonesia yang lebih terbiasa untuk mendengar dan
berbicara daripada membaca dan menulis. Orang Indonesia memiliki budaya tutur,
budaya ngrasani, budaya bergunjing
yang tinggi. Hal tersebut menjadi pembuktian Indonesia termasuk aktif dalam
menggunakan media sosial. Berdasarkan hasil survei We Are Social, dari 255,5
juta penduduk, 72,7 juta di antaranya adalah pengguna internet aktif, 72 juta
adalah pengguna media sosial yang aktif dimana 62 juta penggunanya mengakses
melalui perangkat handphone. Saat
mata kuliah media, budaya dan kaum muda tentang citizen journalism ini banyak mahasiswa yang mengaku memiliki lebih
dari 5 akun media sosial. Itu berarti aktif di sosial media memang sudah
menjadi gaya hidup masyarakat Indonesia saat ini.
Sumber:
www.id.techinasia.com
Berdasarkan riset dari
Kominfo dan UNICEF pada tahun 2014, 30 juta anak-anak dan remaja di Indonesia
merupakan pengguna internet dan media digital saat ini menjadi pilihan utama
saluran komunikasi yang digunakan. 98% anak-anak dan remaja yang disurvei tahu tentang internet dan 79,5% diantaranya
adalah pengguna internet. Melalui hasil ini, maka dapat dijadikan indikasi
bahwa kaum muda saat ini sebagai role
player dari suatu transformasi kehidupan. Maraknya praktik jurnalisme warga
juga tidak lepas dari para kaum muda yang memiliki keahlian dan pengetahuan
mengenai teknologi dan internet.
Hasil ini membawa indikasi
bahwa praktis jurnalisme warga di Indonesia akan mampu berkembang pesat. Agar
hal ini dapat berjalan optimal maka yang diperlukan adalah adanya aturan yang
jelas mengenai jurnalisme warga dan kesigapan para pekerja media konvensional
untuk mengawal bertumbuhnya jurnalisme warga ini.
Referensi :
Gayatri, Diyah Dewi. "Kebijakan Redaksional Dalam
Pemberitaan Metro TV". Jurnal Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIPOL,
Universitas Brawijaya dalam https://www.academia.edu/4598865/JURNAL_Diyah_Dewi_Gayatri
diakses 13 April 2015
Kurniawan, Moch Nunung. "Jurnalisme Warga di
Indonesia, Prospek dan Tantangannya". Makara, Sosial Humaniora. VOL 11(II)
Desember 2007: 71-78
Outing, Steve. 2005, 15 Juni. The 11 layers of Citizen
Journalism. Dikutip ulang 14 April 2015 dari
http://www.poynter.org/content/content_view.asp?id=8 3126
Saefulah, Asep. Mei 2013. "Sejarah Jurnalisme
Warga". dalam
http://saepulohasep35.blogspot.com/2013/05/sejarah-jurnalisme-warga.html
diakses pada 13 April 2015
SIARAN PERS NO. 17/PIH/KOMINFO/2/2014 Tentang Riset
Kominfo dan UNICEF Mengenai Perilaku Anak dan Remaja Dalam Menggunakan Internet
Wijaya, Ketut Krisna. 21 Januari 2015. "Berapa
Jumlah Pengguna Website, Mobile dan Media Sosial di Indonesia?".
TechinAsia Online. dalam
http://id.techinasia.com/laporan-pengguna-website-mobile-media-sosial-indonesia/
diakses pada 13 April 2015
Komentar
Posting Komentar