Telah lebih dari sepuluh dasa warsa peringatan
berdirinya Boedi Oetomo. Organisasi yang menjadi tonggak kebangkitan nasional
ini menjadi jejak cerita perjuangan para aktivis masa lalu dalam merebut
kemerdekaan bagi bangsa ini. Namun keberhasilan merebut kemerdekaan itu tak
lantas menjadi titik berhenti dari segala aksi pergerakan. Justru di pasca
kemerdekaan, penjajah-penjajah versi baru muncul dalam rupa jiwa-jiwa yang
terbelenggu dalam kepentingan politik individu. Boedi Oetomo millennium baru
lah yang seharusnya menunjukkan kiprahnya memerangi penjajah versi baru ini.
Panggung
politik dan pemerintahan di Indonesia mengubah pertunjukannya pasca terpilihnya
koalisi Indonesia Hebat dalam jajaran tokoh penting di negeri ini. Koalisi
Indonesia Hebat yang dikemudikan oleh Presiden Joko Widodo digadang-gadang akan
membawa banyak perubahan dan mengusung revolusi mental. Namun siapa sangka,
kehidupan politik, ekonomi dan sosial negeri ini justru dinilai semakin
gonjang-ganjing pasca terpilihnya Joko Widodo sebagai presiden. Keadaan ini
yang menjadi dasar bagi mereka yang peduli akan nasib bangsa dan menginisiasi
diri dalam momen konsolidasi nasional di hari Kebangkitan Nasional tahun 2015
ini.
Mereka
yang dulunya turut memberikan salam dua jari kini mulai kecewa. Rasa itu
kemungkinan muncul dimulai dari permainan harga BBM yang membuat ekonomi
menjadi tidak stabil atau permasalahan pencalonan Kapolri. Kekecewaan ini
berimbas pada Persatuan mahasiswa seluruh Indonesia yang mengatasnamakan diri
menjadi BEM-SI atau Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia menjadwalkan
demonstrasi serempak. Aksi ini dalam rangka mengkritisi pemerintahan yang belum
genap berumur satu tahun dan desusnya juga ingin melengserkan orang nomor satu
di negara ini dari jabatannya. Tepatkah langkah para aktivis mahasiswa ini?
Kampus
adalah rumah bagi kaum intelektual begitupun sebuah lembaga yang bernama Badan
Eksekutif Mahasiswa (BEM), BEM tergambar bagi benak seorang mahasiswa baru
(maba) sebagai sarang manusia-manusia kritis yang selalu haus dengan
pengetahuan, begerak berdasarkan kepahaman, berjuang berasaskan keberpihakan.
Itulah hal yang saya rasakan saat menjadi maba, namun semakin memahami dunia
kampus, hanya sebagian orang saja yang terlihat memiliki nyawa-nyawa negarawan
muda, begitupula dengan BEM, sedikit sekali yang mau bergerak berdasarkan nalar
intelektual namun cenderung melampiaskan birahi emosional.
Generasi
muda memang dipercaya sebagai generasi pendobrak. Meminjam kutipan dari
Presiden Soekarno, “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari
akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”. Rupanya memang
para generasi muda yang sepakat membuat konsolidasi nasional dalam rangka Hari
Kebangkitan Nasional ini kembali ingat dengan fungsinya, setelah dimanjakan
oleh keberhasilan reformasi. Beberapa momen sebelumnya, para generasi tua yang
merupakan mantan aktivis di masa lalu memang sempat mengeluhkan mlempemnya
kiprah generasi muda dalam menyoal pemerintahan.
Namun
jika kita lihat praktiknya, aktivis BEM seakan sulit melupakan nostalgia
perjuangan kakak-kakanya di era 98, bagi mereka kakak-kakak mereka seakan
menjadi pahlawan yang mampu menggulingkan diktator dan membawa harapan baru
bagi bangsa Indonesia, mereka berfikir perlawanan kepada seorang penguasa
adalah sebuah kewajiban utama, menyuarakan aspirasi rakyat kecil adalah sebuah
tanggung jawab moral namun terkadang lupa nalar intelektual sebagai dasar
keberpihakan dalam berjuang.
Ada
yang disayangkan sebenarnya dari aksi yang digelar mahasiswa ini. Kabar yang
bergulir di media menyebutkan bahwa misi utama para mahasiswa melakukan
konsolidasi adalah demi menjatuhkan pemerintahan Joko Widodo. Misi ini sempat
menjadi perdebatan dan dianggap sebagai kemustahilan. Memang jika bercermin
pada kenyataan bahwa Indonesia memang berada pada kondisi tidak stabil akan
menyulut keinginan untuk menyudahi pemerintahan ini. Namun hal tersebut rasanya
kurang pas mengingat umur pemerintahan kabinet ini masih sangat seumur jagung.
Rasa-rasanya tidak ada diskusi dan tukar argumen secara signifikan ketika
menggagas aksi ini.
Desas-desus
mengenai menjatuhkan pemerintahan Joko Widodo awalnya memang sukses bergaung di
ranah media sosial saja. Hal ini memang sesuai dengan kondisi generasi muda
kekinian yang memang menjadi konsumen utama media sosial. Desas-desus dan
gerakan mahasiswa yang terselubung itu mayoritas juga tampil di akun-akun yang
berseberangan dengan Joko Widodo. Namun justru gerakan yang mengarah ke tindak
hasutan semacam ini yang menyulut api ketidakpercayaan masyarakat terhadap
pemerintah.
Tetapi
tetap saja, beberapa gerakan mahasiswa terlihat tidak masuk akal dan tidak
konsekuen. Kembali lagi ke pernyataan sebelumnya bahwa mahasiswa lupa dengan
kemampuan nalar intelektual mereka dalam mengambil langkah. Sebut saja aksi
salah satu kelompok mahasiswa yang mengusung program Selamatkan Pribumi dan
memberikan ultimatum kepada pemerintahan Joko Widodo apabila tuntutan mereka
tidak segera ditindaklanjuti. Aksi yang dilakukan oleh kelompok mahasiswa ini
katanya ingin menyelamatkan pribumi, tetapi dalam aksinya justru memperlihatkan
topeng Vendetta, salah satu tokoh dalam film yang bukan pribumi untuk
menyelamatkan pribumi. Rasanya ironi, dan memang aksi mahasiswa ini ditunggangi
oleh partai politik.
Nalar
para aktivis mahasiswa ini akan dimatikan oleh kebuasan partai politik apabila dalam
melangkah masih saja mau untuk mengiringi kepentingan partai politik tertentu.
Selain itu juga mengingat rapor merah yang dimiliki partai politik dan kehausan
akan kekuasaan yang menjadi konsentrasi para partai politik saat ini.
Bayang-bayang
pemberitaan di media yang rentan untuk disalahartikan juga menjadi pemicu
langkah mahasiswa menjadi kurang bernafaskan intelektual. Media giat untuk
menyulutkan kepada masyarakat tentang kobaran semangat para mahasiswa menyambut
demo serentak di hari Kebangkitan Nasional, dan media semakin semangat
memberitakan ketika demo tersebut ternyata hanya dihadiri oleh sedikit
mahasiswa dan kembali memojokkan posisi mahasiswa sebagai kaum intelektual yang
seharusnya mampu menjadi problem solver
permasalahan bangsa.
Jadi bagaimana
seharusnya para mahasiswa ini boleh beraksi? Atau kita justru hanya bersyukur
saja, syukur-syukur ada aksi dari mahasiswa daripada tidak ada sama sekali? Itu
yang kini menjadi pekerjaan rumah, yang seharusnya menjadi kurikulum
pengembangan karakter khusus di universitas. Idealisme yang berlandaskan data dan
yang tidak seharusnya mudah bergoyah oleh politik meja makan adalah idealisme
yang selayaknya dimiliki para aktivis mahasiswa.
Saat
ini pekerjaan rumah besar bagi BEM sebagai organisasi pergerakan mahasiswa
adalah melahirkan ruang-ruang intelektual agar memantik mahasiswa untuk terus
berfikir bagi bangsa ini, meramaikan sekretariat dengan debat intelektual berdasarkan
data, dan tulisan progresif yang mampu memantik semangat mahasiswa untuk ikut
berjuang. Karena memang banyak mahasiswa dan masyarakat yang merindukan nalar
kritis aktivis BEM dalam membangun peradaban bangsa ini. Bertolak dengan
perayaan Hari Kebangkitan Nasional, setidaknya kita harus menjadi generasi muda
yang seprogresif Boedi Oetomo namun dijalankan dan disesuaikan di zaman ini.
Komentar
Posting Komentar