Sendirian dan tidak berbuat apa-apa adalah hal paling menakutkan dalam hidup saya. Yah setelah sekitar 10 bulan belakangan saya punya pekerjaan kecil-kecilan di sebuah online shop yang sedang berkembang, bulan September ini menjadi bulan pertama saya menjadi pengangguran lagi. Meskipun pekerjaan yang dulunya saya ambil itu sederhana, namun efeknya sangat terasa ketika sekarang tidak lagi mengerjakan pekerjaan itu. Biasanya minimal 3 jam saya harus stay di depan laptop untuk membalas komentar sista-sista bawel yang mau pesan baju. Sekarang, buka laptop biasanya hanya untuk mengerjakan tugas dan surfing internet tidak jelas.
Menjadi pengangguran ini membuat saya menjadi manusia nyelo, yang tidak dituntut tekanan dan berakhir tidak berbuat apa-apa. Sempat saya apply ke beberapa kerjaan sambilan potensial, tapi hasilnya nol. Hal yang menyedihkan lagi saat ini adalah tahun ketiga saya kuliah, tapi justru rasanya tidak berbuat apa-apa.
Setiap malam, atau mungkin dalam setiap doa saya, selalu terselip permohonan untuk bisa menjadi pribadi yang bertanggungjawab terhadap apapun yang telah diberikan Tuhan, mencakup anugerah bakat, rezeki, relasi dan yang paling simpel adalah waktu. Tapi rasanya darasan permohonan itu hanya terucap, dan bukannya Tuhan tak mau mengabulkan, tapi memang diri ini rasanya memang tidak cukup ditakdirkan menjadi pribadi bertanggungjawab. Bahasa simpelnya, diri ini sedang tidak ada niat.
Nah, dan waktu sendirian ini adalah hal paling menakutkan, ketika saya kembali merenungi dan merefleksi apa saja yang telah saya lakukan selama 4 semester belakangan. 4 semester kali 5.8 juta yang hasilnya masih seperti talenta yang tidak pernah digandakan.
Hal yang paling bisa saya bangggakan hanyalah pengalaman menjadi pendengar yang setia. Setiap harinya menjadi pendengar pengalaman orang lain, perspektif orang lain, dan prestasi orang lain. Ya saya hanya pendengar yang tidak pernah protes terhadap segala informasi yang didapatkan. Pendengar yang iri tanpa mengucapkan rasa irinya.
Lalu sekarang apa? Mungkin kembali lagi mendaraskan doa yang sama, sambil terus-terusan ditempa cerita orang lain yang semakin membuat ngilu perasaan yang jarang berbuat sesuatu ini.
Komentar
Posting Komentar